Lalui Sungai Penuh Buaya Demi Kesekolah



 Tekad bulat serta perjuangan yang dilakukan anak-anak di Dusun Lai Hiding, Desa Kiritana, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ssungguh luar biasa untuk menuju sekolah mereka rela bersusah payah menyebrangi sungai demi sebuah arti masa depan mereka.  Sungguh tak bisa dibayangkan, jika setiap harinya, anak-anak harus menanggalkan pakaiannya untuk menyebrangi derasnya sungai yang dipenuhi buaya.

Bagi anak-anak, mengecap pendidikan di Dusun Lai Hiding bukan perkara yang mudah dijalani. Untuk bisa mengikuti pelajaran di sekolah, para murid daru dusun ini harus menghadapi kerasnya alam.



Setiap harinya, Apris dan fani, warga Dusun Lai Hiding harus melewati bukit terjal dan arus sungai yang eras untuk bisa sampai ke sekolah mereka. Bahkan, mereka tidak menyeberangi sungai dengan jembatan. Untuk mencapai ke seberang sungai, anak-anak harus menanggalkan seragam sekolahnya untuk melawan derasnya sungai.

Di saat menyeberang sungai, tidak hanya arus deras yang harus diwaspadai, serangan buaya di sungai juga menjadi ancaman anak-anak ini. Memang, sungai di Sumba Timur masih menjadi habitat buaya.

Untuk mencapai sekolah dengan jarak dekat, anak-anak ini harus melalui tebing terjal yang lumayan tinggi. Tak ada pilihan lain jika ingin tepat waktu mencapai sekolah.

"Jika berngkat sekolah, kami pasti melalui jalan ini untuk sampai ke sekolah. Kami juga berharap air sungai tidak tinggi. Tak ada jembatan. paling naik sampan,' ujar Apris menjelaskan, Kamis 29 Maret 2012.

Di Desa Kiritana ini memang jauh dari hiruk-pikuk unjuk rasa menolak kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Tak terpikirkan oleh warga di Dusun Lai Hiding untuk meneriakan suara penolakan kenaikan harga BBM.

Setiap hari rute ini dilalui anak-anak ini. Saat pergi dan pulang sekolah. Entah kapan situasi ini akan berubah. Paling tidak, ada sampan atau perahu yang lebih besar untuk membantu menyebrangi sungai, hingga resiko kecelakaan jauh lebih diminimalkan.